Penat yang hinggap selama beberapa minggu
terakhir itu, agaknya sudah sedikt berkurang. Setelah sekian lama, akhirnya
pulang juga. Aroma udara kampung halaman, terasa begitu tenang.
terakhir itu, agaknya sudah sedikt berkurang. Setelah sekian lama, akhirnya
pulang juga. Aroma udara kampung halaman, terasa begitu tenang.
Dan hari Senin ini, waktunya kembali berjibaku
dengan peluang dan kegagalan merubah nasib. Dalam perjalanan ke Semarang, aku teringat
akan cerita kesedihan seorang kawan
dekat. Sahabat yang sudah lama aku kenal. Dari tulisan yang ia sampaikan,
nampak sekali hari-harinya tidak berwarna, selain gradasi warna hitam, putih,
dan abu-abu. Dan semua itu, ia rangkai dalam sebuah cerita hati dalam sebuah
email yang pernah ia kirimkan padaku.
dengan peluang dan kegagalan merubah nasib. Dalam perjalanan ke Semarang, aku teringat
akan cerita kesedihan seorang kawan
dekat. Sahabat yang sudah lama aku kenal. Dari tulisan yang ia sampaikan,
nampak sekali hari-harinya tidak berwarna, selain gradasi warna hitam, putih,
dan abu-abu. Dan semua itu, ia rangkai dalam sebuah cerita hati dalam sebuah
email yang pernah ia kirimkan padaku.
***
“Rayya,
Dari waktu yang telah aku lalui, ada satu
episode dalam hidupku yang gelap. Sungguh menyedihkan. Ketika sebuah ujian
berat, gagal aku hadapi. Gagal terlampaui. Sebuah ujian yang nyata-nyata telah
menghempas aku ke dasar pusaran penyesalan, kekecewaan, dan kesedihan.
Dari waktu yang telah aku lalui, ada satu
episode dalam hidupku yang gelap. Sungguh menyedihkan. Ketika sebuah ujian
berat, gagal aku hadapi. Gagal terlampaui. Sebuah ujian yang nyata-nyata telah
menghempas aku ke dasar pusaran penyesalan, kekecewaan, dan kesedihan.
Lebih parah lagi, kesedihan itu menyisakan dua
ketakutan yang sangat besar. Pertama, aku begitu takut menatap masa lalu. Masa
di mana mozaik kehidupan yang indah terangkai. Saat-saat di mana setiap jengkal
langkahnya adalah kesenangan. Saat-saat, ke mana pandangan terhampar yang
terlihat hanya kecantikan. Berwarna-warni. Masa-masa ketika segala yang
diperbuat adalah prestasi gemilang. Namun, itu hanyalah masa lalu. Sudah lewat
dan tidak mungkin bisa terulang lagi.
ketakutan yang sangat besar. Pertama, aku begitu takut menatap masa lalu. Masa
di mana mozaik kehidupan yang indah terangkai. Saat-saat di mana setiap jengkal
langkahnya adalah kesenangan. Saat-saat, ke mana pandangan terhampar yang
terlihat hanya kecantikan. Berwarna-warni. Masa-masa ketika segala yang
diperbuat adalah prestasi gemilang. Namun, itu hanyalah masa lalu. Sudah lewat
dan tidak mungkin bisa terulang lagi.
Lalu, yang kedua adalah ketakutan menatap masa
depan. Terperosok hingga ke dasar kegelapan memang menyeramkan. Miris dan
menakutkan. Perlu usaha keras untuk bisa berdiri tegak. Jangankan melangkah,
untuk bertahan saja begitu berat. Terkadang –bahkan sering– hanya ada air mata
dan rintihan hati memohon Ia berbelas kasihan memberi kekuatan-Nya padaku.
Menyulut kembali api semangat yang telah padam. Untuk mengejar cita-cita yang
telah terurai. Bercita-cita? Bermimpi saja tidak berani. Payah. Parah!
depan. Terperosok hingga ke dasar kegelapan memang menyeramkan. Miris dan
menakutkan. Perlu usaha keras untuk bisa berdiri tegak. Jangankan melangkah,
untuk bertahan saja begitu berat. Terkadang –bahkan sering– hanya ada air mata
dan rintihan hati memohon Ia berbelas kasihan memberi kekuatan-Nya padaku.
Menyulut kembali api semangat yang telah padam. Untuk mengejar cita-cita yang
telah terurai. Bercita-cita? Bermimpi saja tidak berani. Payah. Parah!
Rasa takut, menyebabkan jiwa terlalu
berhati-hati dalam menilai dan bertindak. Dalam arti tidak berani membuat
perubahan, mengukir prestasi puncak. Memilih menjadi safety player yang tidak berani mengambil resiko. Juga
menyia-nyiakan kesempatan. Afraid of
taking chances.
berhati-hati dalam menilai dan bertindak. Dalam arti tidak berani membuat
perubahan, mengukir prestasi puncak. Memilih menjadi safety player yang tidak berani mengambil resiko. Juga
menyia-nyiakan kesempatan. Afraid of
taking chances.
Kawan,
Aku yang dulu seorang pengejar impian, tiba-tiba
menjadi orang yang sangat lemah. Tak bisa lagi bangkit dari sebuah kegagalan.
Tiap kali berusaha bangkit, ada satu sisi dalam diriku yang mengatakan ‘you will fail’. Tapi dari mana suara itu
berasal, aku tak tahu. Entahlah.
Aku yang dulu seorang pengejar impian, tiba-tiba
menjadi orang yang sangat lemah. Tak bisa lagi bangkit dari sebuah kegagalan.
Tiap kali berusaha bangkit, ada satu sisi dalam diriku yang mengatakan ‘you will fail’. Tapi dari mana suara itu
berasal, aku tak tahu. Entahlah.
Lalu seorang kawan yang lain mencoba menyadarkan
diriku.
Katanya, “Mungkin kau kurang istiqamah. Kurang
bersyukur dengan apa yang kamu jalani. Tengoklah saudara-saudara kita yang
lain. Untuk bisa bangkit, kita memang perlu mendongak ke atas. Tapi jangan
terlalu lama karena mata akan silau, dan leher akan lelah. Lebih seringlah engkau
menunduk. Lihatlah ke bawah. Dan kau akan melihat, betapa banyak saudaramu yang
lebih kurang beruntung daripada engkau.
diriku.
Katanya, “Mungkin kau kurang istiqamah. Kurang
bersyukur dengan apa yang kamu jalani. Tengoklah saudara-saudara kita yang
lain. Untuk bisa bangkit, kita memang perlu mendongak ke atas. Tapi jangan
terlalu lama karena mata akan silau, dan leher akan lelah. Lebih seringlah engkau
menunduk. Lihatlah ke bawah. Dan kau akan melihat, betapa banyak saudaramu yang
lebih kurang beruntung daripada engkau.
Sadarlah kawan!
Keep on
fighting. You were a survivor. And that is what you’ll gonna be.
Kau boleh saja bersedih atas apa yang menimpamu
beberapa tahun yang lalu itu. Mengingat kau termasuk orang yang beruntung. Kau
tak pernah menorehkan nilai merah di rapormu. Engkau jugalah yang beberapa kali
mengantarkan teman-temanmu bisa mempertahankan piala bergilir hingga akhirnya
menjadi piala tetap.
Keep on
fighting. You were a survivor. And that is what you’ll gonna be.
Kau boleh saja bersedih atas apa yang menimpamu
beberapa tahun yang lalu itu. Mengingat kau termasuk orang yang beruntung. Kau
tak pernah menorehkan nilai merah di rapormu. Engkau jugalah yang beberapa kali
mengantarkan teman-temanmu bisa mempertahankan piala bergilir hingga akhirnya
menjadi piala tetap.
Sejenak, Kawan…
Diamlah sejenak. Di sini. Di tempat ini.
Berdzikirlah. Memohon segala ampunan-Nya.
Agar Ia mengangkat derajatmu kembali.
Ingatlah kawan. Betapa banyak kemudahan yang Allah berikan kepadamu dalam
menghadapi berbagai tantangan yang engkau lewati. Adakah di sana, kegagalan lebih banyak dari
keberhasilan? Adakah di sana,
kesedihan lebih banyak dari kesenangan? Adakah di sana, kawan, rasa marah lebih banyak dari
rasa cinta karena-Nya. Tidak! Sungguh tidak, Karena Allah menyayangimu.
Diamlah sejenak. Di sini. Di tempat ini.
Berdzikirlah. Memohon segala ampunan-Nya.
Agar Ia mengangkat derajatmu kembali.
Ingatlah kawan. Betapa banyak kemudahan yang Allah berikan kepadamu dalam
menghadapi berbagai tantangan yang engkau lewati. Adakah di sana, kegagalan lebih banyak dari
keberhasilan? Adakah di sana,
kesedihan lebih banyak dari kesenangan? Adakah di sana, kawan, rasa marah lebih banyak dari
rasa cinta karena-Nya. Tidak! Sungguh tidak, Karena Allah menyayangimu.
Niatkan segala yang engkau lakukan dengan
ibadah. Boleh saja, engkau sangat kecewa, ketika kau tidak lolos dalam seleksi student exchangedengan pemerintah negara
bagian Queensland, Australia.Gara-gara salinan
rapormu lupa disiapkan oleh pihak sekolah. Atau, ketika kamu tidak bisa masuk
universitas favorit seperti teman-temanmu yang lain. Sungguh, Kawan. Semua yang
terjadi kepadamu ini bukanlah sebuah kebetulan. Semua rangkaian kejadian dan
peristiwa di dunia ini, sudah Allah atur.
ibadah. Boleh saja, engkau sangat kecewa, ketika kau tidak lolos dalam seleksi student exchangedengan pemerintah negara
bagian Queensland, Australia.Gara-gara salinan
rapormu lupa disiapkan oleh pihak sekolah. Atau, ketika kamu tidak bisa masuk
universitas favorit seperti teman-temanmu yang lain. Sungguh, Kawan. Semua yang
terjadi kepadamu ini bukanlah sebuah kebetulan. Semua rangkaian kejadian dan
peristiwa di dunia ini, sudah Allah atur.
Lihatlah sisi baik dari setiap musibah.
Pandanglah sebuah kegagalan dari perspektif yang lain. Temukan hikmah di balik
semua kesedihan. Simaklah perkataan Malik bin Dinar, ‘Segala sesuatu itu
mempunyai penyerbukan. Kesedihan itu serbuk yang melahirkan amal shaleh. Tidak
ada seseorang yang bersabar atas amal shaleh, kecuali dengan kesedihan.’
Pandanglah sebuah kegagalan dari perspektif yang lain. Temukan hikmah di balik
semua kesedihan. Simaklah perkataan Malik bin Dinar, ‘Segala sesuatu itu
mempunyai penyerbukan. Kesedihan itu serbuk yang melahirkan amal shaleh. Tidak
ada seseorang yang bersabar atas amal shaleh, kecuali dengan kesedihan.’
Seorang sahabat Rasul biasa melakukan istighfar
seribu kali, ketika hatinya terasa sempit. Hingga akhirnya lapang. Rasulullah
SAW sendiri selalu membaca istighfar, paling tidak seratus kali setiap hari.
Bagaimana dengan aku, engkau; kita?
seribu kali, ketika hatinya terasa sempit. Hingga akhirnya lapang. Rasulullah
SAW sendiri selalu membaca istighfar, paling tidak seratus kali setiap hari.
Bagaimana dengan aku, engkau; kita?
Bangkit dari kegagalan memang sangat berat. Tetaplah
berusaha. Bersemangatlah. Karena dengan itu, kau akan mampu melampaui
penghalang di jalan yang engkau temui. Tapi, kesinambungan juga tak kalah
penting. Bagaimanapun juga, Allah menyukai tindakan hamba-Nya yang kecil namun
sering, daripada tindakan besar namun hanya sekali dilaksanakan.
berusaha. Bersemangatlah. Karena dengan itu, kau akan mampu melampaui
penghalang di jalan yang engkau temui. Tapi, kesinambungan juga tak kalah
penting. Bagaimanapun juga, Allah menyukai tindakan hamba-Nya yang kecil namun
sering, daripada tindakan besar namun hanya sekali dilaksanakan.
Bersyukurlah, Kawan…
Kau kini bisa memperbaiki kesalahan-kesalahanmu.
Menurutku, kau sudah berhasil bangkit dari kegelapan. Nilaimu semester ini
sempurna, jayyid jidan, IP-mu 4,00. Apa
itu masih kurang? Jika iya, lantas ke mana rasa syukurmu kepada Dzat Yang Maha
Penyayang? Dia Yang Maha Suci dan Maha Indah. Dialah yang telah meyibakkan
tirai kegelapan sumber-sumber ilmu hingga kau paham akan sesuatu.
Kau kini bisa memperbaiki kesalahan-kesalahanmu.
Menurutku, kau sudah berhasil bangkit dari kegelapan. Nilaimu semester ini
sempurna, jayyid jidan, IP-mu 4,00. Apa
itu masih kurang? Jika iya, lantas ke mana rasa syukurmu kepada Dzat Yang Maha
Penyayang? Dia Yang Maha Suci dan Maha Indah. Dialah yang telah meyibakkan
tirai kegelapan sumber-sumber ilmu hingga kau paham akan sesuatu.
Bangkitlah, Kawan.
Allah SWT berfirman. ‘Hai orang-orang yang
beriman, jika kalian bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan
kepadamu furqan dan menghapuskan kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni
(dosa-dosamu). Dan Allah mempunyai karunia yang besar.’ (QS. Al-Anfal: 29).”
Allah SWT berfirman. ‘Hai orang-orang yang
beriman, jika kalian bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan
kepadamu furqan dan menghapuskan kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni
(dosa-dosamu). Dan Allah mempunyai karunia yang besar.’ (QS. Al-Anfal: 29).”
Ya Allah, izinkan aku mengucap syukur kepada-Mu.
Atas apa yang engkau karuniakan kepada kami. Engkau juga yang telah mengenalkan
aku dengan kawan-kawan seiman, yang selalu menyertaiku dalam berjuang.
Atas apa yang engkau karuniakan kepada kami. Engkau juga yang telah mengenalkan
aku dengan kawan-kawan seiman, yang selalu menyertaiku dalam berjuang.
***
Oh…cerita hati kawanku yang menyedihkan. Tapi
percayalah kawan. Boleh jadi ujian itu untuk menyegerakan hukuman atas
dosa-dosamu di dunia, hingga engkau tak lagi menanggung dosa di hari nanti.
Bergembiralah kawan! Dengan apa yang engkau hadapi setiap hari. Bersyukur.
Sekecil apapun nikmat dan ujian yang kau dapati.
percayalah kawan. Boleh jadi ujian itu untuk menyegerakan hukuman atas
dosa-dosamu di dunia, hingga engkau tak lagi menanggung dosa di hari nanti.
Bergembiralah kawan! Dengan apa yang engkau hadapi setiap hari. Bersyukur.
Sekecil apapun nikmat dan ujian yang kau dapati.
Karena hidup tak mengenal siaran tunda. Apapun
masa lalu kita, tatap tegak masa depan! Kita pernah berjanji, untuk mengejar
mimpi bersama. Dengan tetap melangkah di jalan ketaatan kepada-Nya.
masa lalu kita, tatap tegak masa depan! Kita pernah berjanji, untuk mengejar
mimpi bersama. Dengan tetap melangkah di jalan ketaatan kepada-Nya.
Kau pernah berkata, “Jika Ikal dan Arai punya
Edensor, Maka kau dan aku puya DREAMLAND!”. Kita pasti akan menemukannya. Entah
di manapun itu. Bahkan, jika itu berarti surga. Karena kita akan bersahabat,
hingga ke surga.
Edensor, Maka kau dan aku puya DREAMLAND!”. Kita pasti akan menemukannya. Entah
di manapun itu. Bahkan, jika itu berarti surga. Karena kita akan bersahabat,
hingga ke surga.